Minggu, 04 Oktober 2009

wajah masa lalu


sejarah merekam banyak jejak fakta bawah “wajah” abri kita begitu belepotan pada era rezim soeharto. pada masa ini, abri memang berwibawa, namun lebih buruk karena catatan peristiwa penindasan dan kesewenang-wenangan yang melukai hati rakyat, terutama bagi kalangan aktivis lsm dan mahasiswa.

cermin sejarah


pada era rezim yang represif ini, banyak di jumpai warteg dan warung padang yang memajang foto anggota abri, dipampang sekadar untuk “menggertak” atau menakut-nakuti orang. pada masa ini, abri dipersepsikan sebagai penindas, yang populer mengintimidasi rakyat, dan juga kemaruk dalam urusan bisnis.

tni kembali ke jati diri


akan tetapi, sejak soeharto menuai karmanya dengan cara dilengserkan -- seperti dulu paduka bung karno juga dilengserkan – maka pasca-tragedi mei tahun1998, tni kembali direposisi, organ tentara dipisah (kembali) dari polri. tentara kembali ke jati diri sebagai tentara profesional. hanya saja, kondisi tentara kita pada hari ini amat miris memilukan. kita tahu berbagai organ alutsista tni tergolong uzur dan tambal sulam.

tni menjauh dari politik


berkali-kali bangsa ini disuguhi berita memilukan terkait jatuhnya armada pesawat tni (dari kesatuan ad, au, al). tentara tak lagi bermain-main dalam ranah politik dan bisnis, tapi tak berarti tentara hidup dalam pasungan dalam barak.

garda depan revolusioner


sekali lagi, bila di hari-hari kemarin, rakyat seolah memusuhi tentara, karena arogansi kesewenang-wenangannya; tapi kini, rakyat harus kembali membesarkan tni sebagai kekuatan garda depan revolusioner untuk menghadapi musuh militer dan musuh ideologis.

tni kembali ke rahim rakyat


kini jelaslah, bangsa ini membutuhkan posisioning baru agar tentara kita kembali ke rahim kelahiran 1945 yakni: rakyat miskin dan lemah di pedesaan. kita membutuhkan tentara dengan postur profesionalitas yang tangguh sebagai jelmaan tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, tentara profesional.

tni dan spirit juang 45


semoga tni belajar dari perjalanan sejarahnya, semoga tentara kembali mengukir periode emas spirit juang 1945, dengan kembali ke pangkuan rahim rakyat, tumbuh bersama rakyat (miskin), dan tak ragu sekali pun untuk membela rakyat, membela bangsanya yang sering teraniaya di luar negeri, karena kepepet hidupnya dan terpaksa bekerja sebagai babu, jongos, bahkan diposisikan sebagai budak di luar negeri. untuk mengembalikan kejayaan tni bersama rakyat, maka hanya ada satu tekad, satu gerakan, satu perjuangan bersama yakni: revolusi!

(mas ab, dari gang kampung di bantaran sungai kumuh, jakarta)